Kyiv, Ukraina, dilanda serangan rudal dan drone dari Rusia yang menewaskan setidaknya 11 orang dan menyebabkan kebakaran di salah satu biara Ortodoks paling bersejarah di kota tersebut. Insiden ini terjadi pada Senin malam, 15 Juni 2026, dan memicu kepanikan di kalangan warga yang berlarian mencari perlindungan di tengah serangan yang terus berlangsung.
Menurut laporan dari Reuters, serangan tersebut membuat langit Kyiv dipenuhi oleh puing-puing yang menyala akibat rudal yang berhasil dicegat, dengan sejumlah debris jatuh ke berbagai sudut kota. Dari total korban, lima orang tewas dan 34 lainnya mengalami luka-luka di Kyiv. Serangan ini juga mengakibatkan kebakaran hebat di kawasan warisan dunia UNESCO, Kyiv-Pechersk Lavra, yang terkenal dengan keindahan arsitekturnya. Atap Katedral Dormisi yang bersejarah juga menjadi korban dari serangan ini, menambah daftar kerusakan yang sudah parah akibat konflik yang berkepanjangan.
Sementara itu, di Rusia, serangan drone yang dilancarkan oleh Ukraina juga menewaskan tiga orang dan melukai tiga lainnya di kota Tula, yang berjarak sekitar 200 kilometer selatan Moskow. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, mengungkapkan bahwa ia masih menunggu respons dari Presiden Rusia, Vladimir Putin, terkait proposal pertemuan yang diajukan di Amerika Serikat.
Situasi semakin memanas, dengan Rusia terus melancarkan serangan ke Ukraina hampir setiap hari, sementara Ukraina juga meningkatkan intensitas serangan udara ke wilayah Rusia dalam beberapa pekan terakhir. Ketegangan ini menunjukkan bahwa konflik antara kedua negara masih jauh dari penyelesaian, dan dampaknya dirasakan oleh banyak warga yang terjebak dalam situasi berbahaya.
Krisis yang terus berlanjut ini tidak hanya mempengaruhi kehidupan di Ukraina tetapi juga memberi dampak pada stabilitas kawasan Eropa. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat internasional untuk terus mengawasi perkembangan ini dan mendukung upaya perdamaian yang mungkin dapat mengakhiri konflik yang telah berlangsung lama.