Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami lonjakan signifikan pada perdagangan hari Senin, 15 Juni 2026, dengan penutupan menguat 4,12% ke level 6.254,97. Kenaikan ini didorong oleh sentimen positif terkait kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta penurunan harga minyak dunia yang terjadi secara drastis.
Menurut analisis tim riset dari Phintraco Sekuritas, prospek IHSG dalam jangka pendek tetap menunjukkan tren yang positif. Penutupan indeks di atas rata-rata pergerakan menunjukkan adanya perubahan tren menuju fase yang lebih konstruktif. Selain itu, indikator MACD yang menunjukkan histogram positif yang terus meningkat, menandakan momentum penguatan pasar belum sepenuhnya berakhir. Namun, investor juga diingatkan untuk waspada terhadap potensi aksi ambil untung yang bisa terjadi.
“IHSG berpotensi bergerak dalam rentang 6.150 hingga 6.400 pada perdagangan berikutnya,” ungkap tim riset tersebut dalam laporan yang dirilis pada Selasa, 16 Juni 2026.
Kenaikan IHSG pada hari itu menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa waktu terakhir, bahkan sempat mencapai level 6.345 saat sesi perdagangan berlangsung. Optimisme pasar semakin meningkat seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang berpotensi membawa stabilitas.
Salah satu katalis utama adalah rencana penandatanganan kesepakatan damai antara AS dan Iran yang dijadwalkan di Swiss pada Jumat, 19 Juni. Harapan akan stabilitas di kawasan serta normalisasi jalur pelayaran di Selat Hormuz turut meningkatkan sentimen positif di pasar saham global, termasuk Indonesia.
Dari sisi komoditas, harga minyak mentah dunia mengalami penurunan signifikan. Harga West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dari 4% ke kisaran US$80 per barel, sementara Brent melemah ke sekitar US$83 per barel. Penurunan ini berfungsi meredakan kekhawatiran tentang gangguan pasokan energi global yang dapat berdampak pada ekonomi.
Bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi, penurunan harga minyak dianggap sebagai hal yang positif. Hal ini berpotensi menekan inflasi, mengurangi tekanan pada nilai tukar rupiah, serta mengurangi risiko pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sentimen positif juga terlihat di pasar valuta asing, di mana rupiah menguat 0,85% ke level Rp17.709 per dolar AS pada hari yang sama, seiring meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko di pasar domestik.
Di Bursa Efek Indonesia, sektor bahan baku menjadi pendorong utama penguatan dengan lonjakan 7,26%, didorong oleh optimisme terhadap pemulihan ekonomi global dan harapan akan semakin baiknya aktivitas industri. Sektor-sektor yang sensitif terhadap kondisi ekonomi global juga menunjukkan penguatan, sejalan dengan harapan akan meredanya ketegangan geopolitik yang dapat memperlancar perdagangan internasional.