Ketika Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia mulai kembali memperlakukan satu sama lain sebagai mitra tawar-menawar, tekanan di Asia Timur Laut semakin terasa. Isu-isu seperti Taiwan, Korea, sanksi, jalur energi, risiko nuklir, dan pertahanan rudal kini tidak lagi bisa dipandang terpisah. Semua hal ini semakin terintegrasi dalam satu percakapan strategis di antara ketiga kekuatan besar tersebut.
Asia Timur Laut sendiri sedang mengalami reorganisasi melalui tiga struktur trilateral yang memiliki tujuan, derajat institusionalisasi, dan dampak strategis yang berbeda. Oleh karena itu, kawasan ini kini dibentuk oleh empat lapisan trilateral: pengelolaan kekuatan besar AS-Tiongkok-Rusia yang sedang berkembang; kemitraan penangkalan AS-Jepang-Korea Selatan; kerja sama fungsional Tiongkok-Jepang-Korea Selatan; serta kontra-aligmen Tiongkok-Rusia-Korea Utara.
Kawasan Asia Timur Laut tidak dibagi oleh satu garis tunggal saja. Ia ditarik oleh beberapa segitiga yang saling tumpang tindih.
Lapisan teratas adalah tawar-menawar AS-Tiongkok-Rusia. Ini bukanlah G3 baru atau sebuah konser kekuatan. Tidak ada pertemuan trilateral formal, tidak ada sekretariat bersama, dan tidak ada doktrin yang dibagi untuk mengelola kawasan ini. Namun, logika di balik hubungan ini semakin sulit untuk diabaikan. Pemerintahan Trump menunjukkan preferensi untuk keterlibatan langsung di tingkat pemimpin dengan Beijing dan Moskow.
Tiongkok menolak ko-governance formal G2, tetapi juga melihat keterlibatan langsung dengan Washington sebagai sesuatu yang berguna untuk menstabilkan Taiwan, krisis maritim, perdagangan, dan teknologi. Sementara itu, Rusia ingin keterlibatan langsung dengan AS untuk mendapatkan pengakuan sebagai kekuatan besar dan membentuk penyelesaian mengenai Ukraina.
Lapisan ini berfungsi sebagai regulator tekanan. Jika tawar-menawar AS-Tiongkok-Rusia dapat menstabilkan Taiwan, Ukraina, risiko nuklir, dan sanksi, maka dapat menurunkan suhu ketegangan di Asia Timur Laut. Namun, jika menjadi tidak transparan, transaksional, atau mengabaikan kepentingan regional, hal tersebut akan membuat sekutu AS, tetangga Tiongkok, dan Korea Utara semakin cemas. Pengelolaan kekuatan besar dapat menurunkan ketegangan regional; sementara perdagangan kekuatan besar justru dapat memperburuknya.