Pembangunan kembali Gaza diperkirakan memerlukan biaya hingga $71,4 miliar, yang merupakan tujuh kali lipat dari total biaya rekonstruksi yang dilakukan dalam dua dekade terakhir. Menurut laporan terbaru dari Oxfam, penghancuran yang terjadi akibat lebih dari dua tahun perang telah mengakibatkan kematian setidaknya 73.000 warga Palestina, melukai 173.000 orang, serta mengungsi sekitar 1,9 juta orang. Laporan yang dirilis oleh Penilaian Kerusakan dan Kebutuhan Cepat (RDNA) yang dilakukan oleh PBB, Uni Eropa, dan Bank Dunia pada bulan April lalu menyatakan bahwa Gaza membutuhkan dana yang sangat besar untuk memulai proses pemulihan.
Menurut laporan tersebut, pembangunan kembali Gaza tidak dapat dilakukan tanpa keterlibatan langsung dari rakyat Palestina. Misyef Jamil, peneliti senior di Palestine Economic Policy Research Institute (MAS), menekankan bahwa proses rekonstruksi bukan hanya tugas kemanusiaan, tetapi juga tugas politik. Ia menyatakan bahwa rencana yang dirancang di negara asing, meskipun memiliki pendanaan yang baik, akan menjadi upaya kosmetik yang hanya akan mengontrol tanah dan kehidupan rakyat Palestina. Konsultasi yang dilakukan di seluruh Gaza menunjukkan pesan yang jelas: tidak ada yang terkait masa depan kami tanpa keterlibatan kami.
Biaya yang diperkirakan untuk membangun kembali Gaza meliputi kebutuhan mendesak selama 18 bulan pertama, yang mencapai $26,3 miliar untuk memulihkan layanan dasar, membangun kembali infrastruktur penting, dan mendukung pemulihan ekonomi. Laporan RDNA juga mencatat bahwa total kerugian dan kerusakan yang dialami Gaza mencapai $57,9 miliar. Untuk memberikan gambaran, biaya $71,4 miliar setara dengan pembangunan hampir 48 Burj Khalifa, gedung tertinggi di dunia.
Laporan tersebut juga mengungkapkan tingkat kerusakan yang dialami di sektor perumahan, pendidikan, dan kesehatan, serta dampak pada kehidupan sosial dan budaya yang hilang akibat kehancuran masjid, museum, dan landmark budaya lainnya. Sebanyak 371.888 unit perumahan telah hancur atau rusak, dengan sisa puing-puing yang mencapai 66 juta ton, setara dengan berat 11 Piramida Giza. Lebih dari 50.000 orang memerlukan rehabilitasi jangka panjang, dan 83 persen penyandang disabilitas terpaksa meninggalkan alat bantu mereka.
Sebelum proses rekonstruksi dapat dimulai, sekitar 66 juta ton puing-puing harus dibersihkan. Debris ini membuat seluruh kawasan menjadi tidak dapat diakses, terutama bagi penyandang disabilitas yang terjebak di tengah puing-puing. Selain itu, puing-puing ini juga menimbulkan risiko kesehatan dan keselamatan, karena diyakini mengandung bom dan peluru yang belum meledak. Bangunan yang rusak juga dapat melepaskan asbes dan bahan berbahaya lainnya ke udara, sementara limbah medis dan bahan kimia industri semakin mencemari lingkungan.
Ditambah lagi, diperkirakan sekitar 8.000 hingga 11.000 warga Palestina terpendam di bawah puing-puing. Proses pengangkatan dan identifikasi jenazah mereka harus dilakukan dengan hormat sebelum proses rekonstruksi besar-besaran dapat dimulai. Pembersihan puing-puing merupakan langkah awal yang krusial yang melibatkan pengangkatan, penyortiran, de-kontaminasi, daur ulang, dan pembuangan jutaan ton limbah. Hal ini dianggap sebagai langkah pertama yang penting menuju pemulihan Gaza.