Pada 8 Juni, otoritas AS menolak masuk seorang wasit asal Somalia yang tiba di negara tersebut pada akhir pekan lalu untuk bertugas di Piala Dunia FIFA. Penolakan ini disampaikan oleh Bea Cukai dan Perbatasan AS (CBP) pada hari Senin.
Wasit nasional Somalia itu tiba di Bandara Internasional Miami dari Bandara Internasional Istanbul pada hari Sabtu dan dinyatakan tidak dapat diterima karena masalah pemeriksaan latar belakang, meskipun CBP tidak merinci masalah apa yang dimaksud. Menurut laporan media, wasit tersebut adalah Omar Artan, seorang wasit berprestasi yang memiliki visa sah dan seharusnya menjadi orang pertama dari negaranya yang bertugas di Piala Dunia.
Kedutaan Somalia di Washington belum memberikan tanggapan terkait permintaan komentar mengenai insiden ini. Penolakan ini menyoroti kembali kekhawatiran terhadap kebijakan imigrasi yang ketat yang diterapkan oleh pemerintahan Trump, yang selama ini menjadi sorotan bagi para peserta Piala Dunia.
Tahun lalu, Washington juga memberlakukan larangan perjalanan yang luas terhadap warga dari 12 negara, termasuk Somalia, yang tentunya dapat mengganggu partisipasi atlet dari negara-negara tersebut di ajang internasional yang bergengsi ini. Dengan adanya kasus ini, semakin jelas bahwa kebijakan imigrasi dapat berdampak langsung pada kesempatan para atlet untuk bersaing di level tertinggi.
Keberadaan wasit dari Somalia dalam Piala Dunia seharusnya menjadi sebuah langkah maju untuk representasi dan keberagaman dalam olahraga internasional. Namun, penolakan ini menjadi pertanda bahwa masih ada tantangan besar yang harus dihadapi oleh atlet dan pejabat olahraga dari negara-negara yang dianggap berisiko tinggi dalam pandangan kebijakan imigrasi AS.