Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa tidak ada dana yang akan dicairkan kepada Iran terkait penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk menghentikan konflik dan membuka kembali Selat Hormuz. Wakil Presiden AS, J.D. Vance, menyatakan bahwa kesepakatan yang ditandatangani secara digital pada Minggu (14/6) tidak menjamin akses terhadap aset Iran yang saat ini dibekukan.
Vance menambahkan, “Tidak ada uang yang dicairkan, dan itu tidak akan berubah,” dalam wawancara dengan ABC News pada Senin (15/6). Pernyataan tersebut merupakan respon terhadap berbagai laporan yang mengklaim bahwa Iran akan menerima dana miliaran dolar AS sebagai imbalan dari kesepakatan tersebut.
Menurut Vance, insentif yang sedang dibahas berkaitan dengan kemungkinan pencabutan sanksi ekonomi yang dijatuhkan kepada Iran, tetapi hanya jika negara tersebut bersedia memenuhi komitmen terkait program nuklirnya. Salah satu komitmen tersebut adalah penghapusan stok uranium yang diperkaya dan penerimaan mekanisme verifikasi internasional untuk memastikan bahwa Iran tidak mengembangkan senjata nuklir.
“Jika kami melihat Iran mengambil langkah konkret, seperti menghapus stok material yang telah diperkaya, maka keringanan sanksi akan mengikuti. Jika rezim verifikasi yang diperlukan untuk memastikan mereka tidak membangun senjata nuklir diizinkan, keringanan sanksi juga akan berlaku,” ungkap Vance.
Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim bahwa Iran akan mendapatkan pencairan dana senilai US$24 miliar atau sekitar Rp424 triliun selama masa negosiasi terakhir yang berlangsung selama 60 hari. Dari jumlah tersebut, separuhnya diharapkan dapat diakses sebelum perundingan akhir dimulai.
Kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, melaporkan bahwa draft MoU mencakup jaminan pemulihan ekonomi Iran dengan nilai minimal US$300 miliar, yang setara dengan Rp5.300 triliun. Namun, dalam wawancara terpisah dengan CBS News, Vance menegaskan bahwa angka US$24 miliar tidak pernah dicantumkan dalam dokumen yang dibahas oleh kedua negara.
“Kami terbuka untuk membahas berbagai hal, termasuk kemungkinan pencairan aset, tetapi angka US$24 miliar sama sekali tidak muncul dalam dokumen yang kami bicarakan dengan Iran,” tandasnya. Mengenai potensi pemulihan ekonomi sebesar US$300 miliar, Vance menjelaskan bahwa ini bukan merupakan bantuan tunai dari pemerintah AS, melainkan akses terhadap investasi yang didanai oleh negara-negara Teluk untuk rekonstruksi Iran, yang bisa diperoleh jika Iran memenuhi seluruh kewajibannya dalam kesepakatan tersebut.
Perlu diketahui, AS dan Iran dijadwalkan untuk menandatangani kesepakatan damai secara resmi di Swiss pada Jumat (19/6), sebagai lanjutan dari penandatanganan kesepakatan secara digital pada Minggu (14/6).