Jakarta, CNBC Indonesia – Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akhirnya menunjukkan titik terang dengan kabar baik. Washington dan Teheran dilaporkan telah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
Kabar ini diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang bertindak sebagai mediator dalam perundingan tersebut. Kesepakatan damai ini direncanakan akan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat mendatang.
Trump menegaskan bahwa semua poin perjanjian dengan Iran telah disepakati dan siap untuk difinalisasi. Sementara itu, Sharif menginformasikan bahwa pakta tersebut mencakup penghentian permanen operasi militer di seluruh front konflik, termasuk di Lebanon.
Meski rincian akhir perjanjian belum dipublikasikan, kesepakatan ini diharapkan membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia yang telah terpengaruh oleh konflik selama berbulan-bulan. Selain itu, blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran juga akan dihentikan.
Namun, di balik kabar damai ini, perang yang berlangsung selama beberapa bulan telah menimbulkan beban besar bagi militer AS. Salah satu dampak signifikan adalah berkurangnya stok amunisi dan rudal yang dimiliki Washington.
Menurut analisis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), serangan pengeboman yang dilakukan oleh militer AS terhadap Iran dan peluncuran sistem pertahanan udara AS untuk menghadang serangan balasan Iran selama tiga bulan terakhir telah menguras persediaan amunisi penting. CSIS mencatat bahwa meskipun AS masih memiliki amunisi yang cukup untuk berbagai skenario, penggunaan intensif dalam konflik ini menciptakan celah kerentanan, terutama jika AS harus menghadapi konflik lain di kawasan Pasifik Barat.
Masalah utama bagi AS tidak hanya terletak pada ketersediaan rudal, tetapi juga pada seberapa cepat mereka dapat mengisi kembali stok senjata yang telah digunakan selama perang. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya menyebutkan bahwa proses pengisian kembali inventaris senjata memerlukan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, tergantung pada jenis sistem senjatanya. Analis CSIS menyampaikan pandangan serupa.
Salah satu amunisi yang paling banyak digunakan oleh AS selama konflik ini adalah Tomahawk Land Attack Missile (TLAM). Menurut perkiraan CSIS, AS menggunakan lebih dari 1.000 rudal Tomahawk dalam perang melawan Iran.
Jumlah tersebut sangat signifikan jika dibandingkan dengan kapasitas produksi tahunan yang diperkirakan sekitar 600 rudal per tahun. Meskipun target kapasitas dalam industri pertahanan AS dapat mencapai 1.000 rudal per tahun, peningkatan produksi tidak dapat dilakukan secara instan. CSIS mencatat bahwa dengan proyeksi pengiriman saat ini, stok Tomahawk AS baru akan kembali ke level sebelum perang pada akhir 2030 hingga awal 2031.
Artinya, untuk satu jenis rudal ini saja, AS membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima tahun untuk mengembalikan stoknya seperti sebelum konflik dengan Iran. Selain Tomahawk, sistem pertahanan udara seperti Patriot dan THAAD juga mengalami pengurangan yang signifikan selama konflik ini.