BANGKOK/TOKYO — Pemimpin junta Myanmar, Min Aung Hlaing, kembali memperoleh legitimasi internasionalnya setelah kunjungan kenegaraannya ke Beijing yang berlangsung pada hari Selasa. Kunjungan ini dihadiri oleh Presiden China, Xi Jinping, yang memberikan sambutan resmi yang megah, menandai momen penting bagi pemerintah Myanmar di tengah krisis politik yang berkepanjangan.
Kunjungan Min Aung Hlaing ke China ini bukan hanya sekadar ajang diplomasi, tetapi juga menunjukkan bagaimana negara-negara besar seperti China berupaya memperkuat hubungan dengan Myanmar, terutama dengan pemerintahannya yang terus menerus dipertanyakan setelah kudeta militer pada Februari 2021. Sejak saat itu, Myanmar mengalami ketidakstabilan politik dan protes besar-besaran dari masyarakat yang menolak kekuasaan militer.
Selama kunjungan tersebut, kedua pemimpin membahas sejumlah isu penting, termasuk kerjasama ekonomi dan keamanan regional. China telah menjadi salah satu mitra utama Myanmar dalam berbagai proyek infrastruktur, dan dukungan dari Beijing dianggap krusial bagi kelangsungan rezim Min Aung Hlaing. Dukungan ini juga mencerminkan posisi strategis Myanmar dalam konteks geopolitik Asia, di mana China berusaha menguatkan pengaruhnya di kawasan.
Min Aung Hlaing sebelumnya telah mengunjungi Rusia, di mana ia juga mendapatkan sambutan hangat dari pemimpin Rusia, menunjukkan bahwa ia berusaha untuk mencari dukungan internasional di tengah keterasingan yang dialami oleh pemerintahannya. Kunjungan ke China ini dianggap sebagai langkah penting dalam upayanya untuk memperkuat legitimasi di mata dunia, meskipun banyak pihak menganggap rezimnya tidak sah.
Bagi masyarakat Indonesia, perkembangan ini patut dicermati, mengingat hubungan diplomatik antara Indonesia dan Myanmar yang sudah terjalin lama. Indonesia, sebagai negara ASEAN, memiliki peran penting dalam menciptakan stabilitas di kawasan. Dalam konteks ini, bagaimana sikap ASEAN dan negara-negara sekitar terhadap legitimasi Min Aung Hlaing akan menjadi faktor penentu untuk masa depan Myanmar.
Dengan dukungan dari China, Min Aung Hlaing berupaya menunjukkan bahwa ia masih memiliki sahabat internasional yang mendukung pemerintahannya, meskipun banyak kritik yang datang dari dalam dan luar negeri. Kunjungan ini dapat menjadi sinyal bagi negara-negara lain untuk menentukan sikap mereka terhadap Myanmar di masa mendatang.