Karhutla Meningkat 8 Kali Lipat, BRIN Usulkan Pembakaran Terkendali

Kebakaran hutan dan lahan () di Indonesia mengalami lonjakan signifikan pada periode Januari hingga Mei 2026. Luas area yang terbakar mencapai 81 ribu hektare, hampir delapan kali lipat dibandingkan tahun lalu. Tingginya angka ini dipicu oleh potensi fenomena yang dapat meningkatkan risiko kebakaran. Namun, Badan Riset dan Inovasi Nasional () menyatakan bahwa insiden kebakaran ini masih dapat dikelola dengan baik.

Kepala Pusat Riset Ekologi BRIN, Asep Hidayat, menjelaskan bahwa mayoritas kebakaran disebabkan oleh aktivitas manusia, sementara faktor iklim berfungsi sebagai penguat yang mempengaruhi skala dan intensitas kebakaran. Oleh karena itu, pengendalian karhutla bisa dilakukan dengan berbagai cara.

Asep mengungkapkan bahwa pengalaman dari berbagai negara menunjukkan bahwa pengelolaan kebakaran yang efektif melibatkan pencegahan, kesiapsiagaan, deteksi dini, pemadaman cepat, serta restorasi ekosistem. Ia juga menyebutkan opsi sebagai salah satu alternatif yang perlu dikaji lebih dalam, terutama untuk menilai dampak negatif yang mungkin timbul.

Menurut definisi dari Food and Agricultural Organization (FAO), pembakaran terkendali adalah proses pembakaran yang dilakukan dengan tujuan pengelolaan dalam batasan yang telah ditentukan. McRee Anderson, pakar pengelolaan kebakaran dari The Nature Conservancy, menekankan bahwa jika dilakukan dengan benar, pembakaran terkendali dapat memberikan manfaat, seperti mempercepat regenerasi hutan dan mengurangi akumulasi bahan bakar alami yang berisiko memicu kebakaran besar.

Praktik ini telah diterapkan di negara-negara seperti Amerika Serikat, Australia, dan Kanada sebagai strategi untuk mengurangi risiko kebakaran. Namun, di Indonesia, pelaksanaannya masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari segi regulasi dan pengawasan. Israr Akbar, seorang pakar kebakaran, menyatakan bahwa meskipun ada potensi untuk melakukan pembakaran terkendali, harus dilakukan dengan perencanaan yang matang dan di bawah pengawasan ketat.

Dia menekankan bahwa pembakaran tidak boleh dilakukan di ekosistem gambut, yang memiliki cadangan karbon besar dan sangat sulit untuk dikendalikan. Kebakaran di lahan gambut justru dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca, sehingga penting untuk mencegah kebakaran sejak awal.

Melihat potensi risiko yang ditimbulkan oleh El Nino, Nisa Novita, peneliti gambut dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), menjelaskan bahwa hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan erat antara fenomena ini dengan frekuensi karhutla serta luas area gambut yang terbakar. Ia menekankan pentingnya pendekatan hati-hati dalam menerapkan pembakaran terkendali sebagai bagian dari strategi pengelolaan risiko yang lebih luas, dengan tetap menjaga ekosistem gambut sebagai prioritas.

Data terbaru dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa hingga 8 Juni 2026 terdapat 2.312 titik panas di seluruh Indonesia, dengan konsentrasi tertinggi berada di Riau dan Kalimantan. Hal ini menandakan perlunya langkah-langkah cepat dan efektif untuk mengatasi permasalahan karhutla yang terus meningkat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *