Pada 8 Juni, VinFast, produsen mobil listrik asal Vietnam, mengumumkan bahwa pendapatan kuartal pertama mereka meningkat hampir 42 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh tingginya permintaan untuk kendaraan listrik (EV) di pasar utama Asia Tenggara.
Pendapatan kuartal pertama perusahaan tercatat sebesar 23,11 triliun dong (sekitar $877,24 juta), naik dari 16,31 triliun dong pada periode yang sama tahun lalu. Meskipun penjualan EV di negara-negara seperti Amerika Serikat menunjukkan kelesuan, VinFast memilih untuk memfokuskan strategi mereka ke pasar domestik di Vietnam dan negara-negara lain dengan populasi besar seperti India dan Indonesia.
Namun, meski pendapatan meningkat, kerugian bersih perusahaan pada kuartal pertama juga mengalami peningkatan sekitar 59 persen dibandingkan tahun lalu, menjadi 28,11 triliun dong. Hal ini disebabkan oleh pengeluaran besar yang dikeluarkan untuk memenuhi permintaan yang tinggi di pasar-pasar tersebut, termasuk investasi untuk mendirikan pabrik baru dan meningkatkan kapasitas produksi.
Pada bulan lalu, VinFast mengumumkan rencana untuk merestrukturisasi operasi lokalnya, termasuk rencana untuk menjual fasilitas manufaktur di Vietnam kepada kelompok pembeli yang mencakup pendiri dan CEO mereka, Pham Nhat Vuong. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat posisi perusahaan di tengah persaingan yang semakin ketat di industri otomotif listrik.
Di sisi lain, pada bulan Mei, VinFast juga menandatangani kesepakatan untuk menyuplai sekitar 1 juta mobil listrik dan 4 juta skuter listrik kepada GSM, perusahaan taksi yang didirikan oleh Vuong, antara tahun 2026 dan 2030. Kesepakatan ini menunjukkan komitmen VinFast untuk memperluas jangkauan pasar mereka dan mendukung transisi menuju penggunaan kendaraan ramah lingkungan di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya.